Masalah Jerawat Pada Kulit


Masalah Jerawat Pada Kulit
Raudatul Selvia
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo
Lestari Banjarbaru
Progam Studi S1 Farmasi
                                                               
PENDAHULUAN
     Jerawat merupakan penyakit kulit yang dikenal dengan acne vulgaris dimana hampir semua orang pernah mengalaminya. Jerawat sering dianggap sebagai kelainan kulit yang timbul secara fisiologis. Hal ini umumnya terjadi pada umur sekitar 14-17 tahun pada wanita, 16-19 tahun pada pria dan akan menghilang dengan sendirinya pada usia sekitar 20-30 tahun. Namun kadang-kadang terutama pada wanita, jerawat menetap sampai umur 30 tahun lebih. Jerawat atau acne vulgaris adalah kelainan berupa peradangan pada lapisan pilosebaseus yang disertai penyumbatan dan penimbunan bahan keratin yang salah satunya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Propionibacnterium acnes (Apriani dkk., 2014).
     Mikroorganisme seperti Staphylococcus epedermidis dan Propionibacterium acnes ikut berperan dalam patogenesis penyakit ini dengan cara memproduksi metabolit yang dapat bereaksi dengan sebum sehingga meningkatkan proses inflamasi. Sampai saat ini belum ada cara penyembuhan yang tuntas terhadap jerawat, meskipun ada beberapa cara yang sangat menolong. Salah satunya penggunaan antibiotik sebagai solusi untuk jerawat yang masih banyak diresepkan. Namun obat yang diresepkan ini memiliki efek samping dalam penggunaannya sebagai anti jerawat antara lain iritasi, sementara penggunaan antibiotika jangka panjang selain dapat menimbulkan resistensi juga dapat menimbulkan kerusakan organ dan imunohipersensitivitas. Masyarakat mulai beralih dengan mengunakan tanaman tradisional dibandingkan dengan obat-obatan sintesis karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat-obatan sintesis.
     Salah satu tanaman yang memiliki potensi dalam pengobatan terutama sebagai agen antibakteri adalah tanaman mengkudu yang terbukti memiliki kandungan senyawa antrakuinon, alkaloid flavonoid dan sebagainya yang berkhasiat sebagai antibakteri. (Olivia, 2017).

PEMBAHASAN
Menurut Saragih, dkk., (2016) Jerawat atau acne vulgaris merupakan suatu penyakit peradangan kronik dari unit pilosebaseus yang ditandai dengan adanya komedo, papula, pustula, nodul, kista, dan skar. Jerawat sering terjadi pada kulit wajah, leher, dada dan punggung. Meskipun jerawat tidak berdampak fatal, tetapi cukup merisaukan karena dapat menurunkan kepercayaan diri. Terutama mereka yang peduli akan penampilan .
 Acne vulgaris adalah suatu keadaan dimana pori-pori kulit tersumbat sehingga timbul bruntusan atau bintik merah dan abses atau kantong nanah yang meradang dan terinfeksi pada kulit. Jerawat sering terjadi pada kulit wajah, leher dan punggung. Baik laki-laki maupun perempuan (Susanto,2013).
Insidensi tertinggi terdapat pada perempuan antara umur 14–17 tahun dan pada laki-laki antara umur 16–19 tahun. Tetapi dapat pula timbul pada usia di atas 40 tahun dan penyakit ini dapat pula menetap pada usia lanjut. 10% kasus didapat pada usia 30–40 tahun. Bentuk yang lebih berat dari acne terdapat pada kira-kira 3% laki keindahan wajah penderita. Minor acne adalah suatu bentuk acne ringan yang dialami oleh 85% remaja, gangguan ini masih dianggap proses fisiologis, 15% remaja menderita mayor acne yang cukup hebat sehingga mendorong mereka untuk berobat ke dokter. Dalam masa remaja maka fisik anak akan menjadi dewasa. Sering kali penyimpangan-penyimpangan dari pada bentuk badan wanita atau laki-laki menunjukkan kegusaran batin mendalam karena pada masa ini perhatian remaja sangan besar tehadap penanmpilan dirinya. Maka remaja sendiri merupakan salah satu penilaian yang penting tehadap badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya tadi memenuhi persyaratannya, maka hal ini berakibat positif terhadap penilaian dirinya. Bila ada penyimpangan penyimpangan timbullah masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian diri dan sikap sosialnya. Walaupun akne tidak mengancam kehidupan, namun akne dapat menyebabkan konsekuensi psikologis yang berat dan menimbulkan efek negatif pada kualitas hidup penderita, untuk itu penanganan yang baik perlu dilakukan bukan hanya untuk tujuan kosmetik. Dari prevalensi jerawat di atas dapat disimpulkan bahwa hampir sebagian besar masyarakat khususnya remaja pernah menderita jerawat. Jerawat sendiri, selain dapat menyebabkan ketidak nyamanan secara fisik baik dikarenakan nyeri akibat jerawat dan purulent discharge. Selain menimbulkan bekas diwajah, efek utama jerawat adalah pada jiwa seseorang, seperti dampak (Yuindartanto, 2009).
Penyebab terjadinya jerawat antara lain faktor genetik, endokrin, psikis, musim, stres, makanan, keaktifan kelenjar sebasea, infeksi bakteri, kosmetika, dan bahan kimia lain (Al-Hoqail, 2003). Pada dasarnya acne memiliki gejala yang cukup umum yaitu benjolan kecil (papul) yang muncul diatas kulit. Benjolan tersebut biasanya berwarna merah atau kuning karna mengandung nanah. Selain itu, ada beberapa tanda lainnya dari jerawat, seperti sensasi panas atau terbakar akibat adanya peradangan dan timbulnya rasa gatal. Selain itu juga ada juga gejala khas jerawat berupa komedo. Komedo mengandung sumbatan sebum. jerawat juga dapat dipengaruhi oleh hormone-hormon androgenic seperti testosterone yang mengakibatkan pembesaran kelenjar sebasea yang akhirnya meningkatkan produksi sebum. Jerawat dapat disebabkan oleh aktivitas kelenjar minyak yang berlebihan dan diperburuk oleh infeksi bakteri. Bakteri penyebab jerawat terdiri dari Propionibacterium acnes (Chomnawang, dkk., 2007), Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis (Suryana, dkk., 2017)
Pengobatan jerawat dapat dilakukan dengan memberikan obat topikal, obat sistemik, bedah kulit, atau kombinasi dari cara tersebut. Banyak obat yang dapat dipilih untuk pengobatan jerawat salah satunya adalah obat topikal. Tujuan pengobatan topikal adalah mencegah pembentukan komedo, menekan peradangan, dan mempercepat penyembuhan lesi (Djuanda, 2007).
Mencegah jerawat selain dengan obat-obatan, dapat juga dilakukan dengan terapi non farrnakologi. Terapi non farmakologi yang dapat dilakukan pasien untuk mengurangi frekuensi dan gejala jerawat adalah perawatan kulit, pemilihan kosmetik sesuai dengan kondisi kulit, diet makanan, menjaga emosi, dan disarankan untuk tidak menyentuh jerawat, memijit, dan menggosok jerawat, karena hal tersebut dapat memperparah kondisi jerawat. Sifat jerawat adalah kumat-kumatan dan kita tidak dapat menghilangkan jerawat dari tubuh namun kita hanya bisa mengontrol jerawat bukan menyembuhkanya (Harahap, 2000).

PENUTUP
Kesimpulan
a.    Acne vulgaris atau jerawat adalah suatu keadaan dimana pori-pori kulit tersumbat sehingga timbul bruntusan atau bintik merah dan abses atau kantong nanah yang meradang dan terinfeksi pada kulit. Jerawat sering terjadi pada kulit wajah, leher dan punggung.
b.    Penyebab terjadinya jerawat antara lain faktor genetik, endokrin, psikis, musim, stres, makanan, keaktifan kelenjar sebasea, infeksi bakteri, kosmetika, dan bahan kimia lain. Dengan  gejala yang cukup umum yaitu benjolan kecil atau papul yang muncul diatas kulit. Benjolan tersebut biasanya berwarna merah atau kuning karna mengandung nanah. Selain itu, ada beberapa tanda lainnya dari jerawat, seperti sensasi panas atau terbakar akibat adanya peradangan dan timbulnya rasa gatal.
c.    Pengobatan jerawat dapat dilakukan dengan memberikan obat topikal, obat sistemik, bedah kulit, atau kombinasi dari cara tersebut. Banyak obat yang dapat dipilih untuk pengobatan jerawat salah satunya adalah obat topikal. Mencegah jerawat selain dengan obat-obatan, dapat juga dilakukan dengan terapi non farrnakologi. Terapi non farmakologi yang dapat dilakukan pasien untuk mengurangi frekuensi dan gejala jerawat



DAFTAR PUSTAKA
Al-Hoqail, I. A. 2003. Knowledge, Beliefs and Perception of Youth Toward Acne Vulgaris. Saudi Med J. 24(7) : 765-768.

Apriani, D., Amaliawati, N., Kurniati, E. (2014). Efektivitas Berbagai Konsentrasi  Infusa Daun Salam (Eugenia polyantha Wight) terhadap Daya Antibakteri Staphylococcus aureus Secara In Vitro.  Jurnal Teknologi Laboratorium, 3(1), 1-7.

Chomnawang, M. T., Suvimol Surassmo, Veena S. Nukoolkarn, dan Wandee Gritsanapan. 2007. Effect of Garcinia mangostana on Inflammation Caused by Propionibacterium acnes.  Fitoterapia. 78(6) : 401-408. 

Djuanda, A., 2007, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, 254-246, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates

Olivia, C. Simatupang, Jemmy Abidjulu, & Krista V. Siagian. 2017. Uji daya hambat ekstrak daunmengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap pertumbuhan Candida albicans secara in vitro. Jurnal e-GiGi (eG). 5(1): 1-6

Saragih, D. F., Hendri Opod, dan Cicilia Pali. 2016. Hubungan Tingkat Kepercayaan Diri dan Jerawat (Acne vulgaris) pada Siswa-Siswi Kelas XII di SMA Negeri 1 Manado. Jurnal e-Biomedik (eBm). 4(1).

Suryana, S., Nuraeni, Y. Y. A., & Rostinawati, T. 2017. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Dari Lima Tanaman Terhadap Bakteri Staphylococcus Epidermidis Dengan Metode Mikrodilusi M7–A6CLSI. Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology, 4(1), 1-9.
Susanto, R, C. & G A Made Ari M. 2013. Penyakit Kulit Dan Kelamin. Yokyakarta : Nuha Medika

Yuindartanto, A. 2009. Acne vulgaris. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Diunduh dari http:/yumizone.wordpress.com/20- 09/01/07/acne/ (di akses tanggal 10 oktober 2016.







Komentar

  1. Wah informasinya sangat bermanfaat sekali buat saya. Terimakasig ya😊

    BalasHapus
  2. Wahh Makasih untuk informasinya kak , ini sangat bermanfaat

    BalasHapus
  3. Terimakasih atas informasinya nya kaya informasi yang sangat bermanfaat banget buat aku

    BalasHapus
  4. Wahhh, sangat bermanfaat sekali kakak

    BalasHapus
  5. Kak bisa di next blog selanjutnya

    BalasHapus
  6. TERIMAKASIH KAKA INFONYAA :))))

    BalasHapus
  7. terimakasih info nya kak 😊

    BalasHapus
  8. Bermanfaat sekali, terimakasih informasinya kak :)

    BalasHapus
  9. Terimakasih penjelasannya sangat bermanfaat

    BalasHapus

Posting Komentar